Jumat, 16 November 2012

Cinta Suci Zahrana


“Untuk apa penghargaan kalau cuma bikin malu keluarga?”
Demikian dialog yang diungkapkan Bapak pada Zahrana, tepatnya Ir. Dewi Zahrana, M.Sc. Kepulangan Zahrana ke rumah setelah mendapat penghargaan dari luar negeri sepantasnya disambut bahagia oleh Bapak-Ibunya. Sayang, Bapak hanya menyambut dingin kepulangan Rana, seorang gadis pintar yang berprofesi sebagai dosen. Memiliki anak gadis sekaligus anak satu-satunya, tentu saja harapan Bapak, begitu juga dengan Ibu, adalah memiliki anak yang pintar, sukses, dan juga: menikah. Hal terakhir inilah yang lebih diharapkan Bapak. Tak ada hal yang lebih membanggakan bagi Bapak selain melihat Rana menikah sebelum ajal menjemput.
Seperti lebaran di tahun-tahun sebelumnya, libur lebaran saya pasti diisi dengan silaturahmi ke bioskop. Memang, di tiap lebaran, bioskop selalu mengeluarkan film-film bagus. Dan di tahun ini, salah satu film Indonesia yang berkualitas adalah Cinta Suci Zahrana.
Seperti novel-novel mahakarya Kang Abik sebelumnya, seperti Ayat-Ayat Cinta, KCB 1 dan 2, Dalam Mihrab Cinta yang akhirnya menjadi sebuah film laris, novel Kang Abik berikutnya yang berjudul Cinta Suci Zahrana juga kembali di-film-kan. Bila bicara sebuah novel yang akhirnya menjadi film, pertanyaan masyarakat, khususnya para pembaca: apa film nya akan sebagus novelnya?
Alur Cerita
Bila di film Ayat-Ayat Cinta, pembaca banyak yang kecewa karena alur cerita yang berbeda dengan novel. Lalu pada KCB, pembaca cukup puas dengan kualitas film karena alur cerita tidak melenceng dari novel, walau ada juga yang sedikit kecewa karena film ini ‘bersambung’. Suatu hal yang menurut saya wajar, mengingat novel KCB pun juga ada dua buku. Saya memaklumi script writer nya jika mengalami kesulitan merangkum dua novel tebal ini. Kalau memang ada pertimbangan bisnis, menurut saya juga masih wajar, jadi isi novel tersebut tidak banyak yang dibuang. Buktinya pembaca dan penonton jadi penasaran menanti KCB 2.
Lantas bagaimana dengan Cinta Suci Zahrana? Sama seperti ketika saya menonton film Dalam Mihrab Cinta, perjalanan film Kang Abik selalu dan semakin berkualitas. Alur cerita juga sama seperti novel, tidak banyak isi novel yang terbuang. Mengingat kedua novel ini juga tidak begitu tebal, jadi tak susah untuk ‘memberi nyawa’ pada setiap cerita yang ada.
Kualitas Akting
Ir. Dewi Zahrana, M.Sc, yang diperankan oleh Meyda Sefira. Kalau saya tidak salah, aktingnya dimulai ketika berperan menjadi Husna, adiknya Azzam dalam film KCB. Lalu menjadi istri Dude Herlino dalam film ‘Dalam Mihrab Cinta’. Dan sekarang Meyda berperan sebagai Zahrana, tokoh utama dalam film ini. Pantaskah jika Meyda (masih) dibilang pendatang baru dalam dunia per-film-an? Apapun sebutannya, bagi saya, peran Meyda dalam setiap film nya sangat natural, tidak seperti sedang berakting. Saya tidak tahu apakah keseharian Meyda juga berhijab, namun aura nya tidak bisa dibohongi kalau dia seorang perempuan muslimah yang anggun dan cerdas.
Untuk akting pemain lainnya, saya rasa tak perlu dibahas lagi, mengingat yang berperan sebagai orang-tua Meyda saja seorang pemain kawakan. Tidak ada kekakuan antara Meyda ‘Zahrana’ dengan orang-tuanya. Untuk tokoh lain, ini pertama kalinya saya menonton akting Miller yang berperan sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi, lulus, wisuda, jadi pengusaha, dan akhirnya menikah dengan sang dosen pembimbing.
Dan walau hanya berperan sebagai ‘cameo’ saja, akting Azzam (ah saya lupa nama aslinya, sepertinya Holidi) sebagai Rahmad sang penjual kerupuk, juga tak kalah berkarakter. Penghuni bioskop begitu terpukau ketika pas adegan Rahmad memutar badannya, dan ketika di-close up wajahnya, banyak yang bergumam, “Azzam…” Aktingnya juga begitu natural, mengingat Azzam juga memiliki aura ‘cowok baik-baik’, sangat pas berperan sebagai santrinya Pak Kiai yang berprofesi sebagai penjual kerupuk.
Pesan Moral
Film berkualitas memang tak hanya mampu menghibur penonton, namun juga memberi pesan moral untuk penontonnya. Seperti beberapa karya Kang Abik yang sudah saya baca dan tonton, memang sebuah fiksi yang tak jauh dari kehidupan nyata.
Sikap Bapak yang begitu dingin pada Rana, semua itu akibat dari rasa malu beliau karena memiliki anak gadis yang belum menikah. Kalimat ketus yang diungkapkan Bapak, seakan-akan semua itu adalah kebodohan Rana. Dalam dunia nyata, begitu banyak orang-tua yang bersikap seperti ‘Bapak’. Mereka lupa, bahwa jodoh merupakan hadiah terindah dari Tuhan. Bila Tuhan belum memberikan hadiah tersebut, lantas siapa yang harus dipersalahkan?
Dalam film tersebut juga diceritakan bahwa Rana sulit dapat jodoh karena sekolahnya yang mencapai S2, menjadi dosen berkualitas, dan mendapat penghargaan di mana-mana. Inilah yang (katanya) membuat lelaki jadi minder untuk mendekati Rana. Hal ini lah yang membuat sebagian perempuan beralasan: jadi cewek nggak usah kelewat pinter, ntar nggak ada cowok yang mau!
Benarkah menjadi perempuan cerdas merupakan suatu kesalahan? Di zaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, menurut saya, menjadi perempuan cerdas itu wajib. Ada banyak hal yang membuat perempuan harus cerdas. Bayangkan bila seorang perempuan, calon Ibu, tidak mengerti apa-apa tentang kesehatan, gizi apa yang nantinya akan diberikan untuk calon anak-anak mereka, konsep pendidikan seperti apa yang nantinya akan diajarkan pada calon anak-anaknya, dan lagi, sejauh mana dia ‘mengenalkan Tuhan’ pada calon anak-anaknya kelak. Inilah alasannya perempuan harus cerdas, mengetahui banyak hal.
Apakah pendidikan dan karier perempuan begitu menakutkan bagi lelaki? Saya rasa dua hal tersebut bukanlah seperti monster yang nantinya akan menakutkan para lelaki. Ya, seperti prinsip Rana, “Aku hanya memilih lelaki yang sholeh!” Dalam kehidupan nyata pun, banyak perempuan yang pendidikan dan karier nya lebih tinggi dari suaminya. Lantas kenapa perempuan tersebut mau menerima ‘pinangan’ lelaki yang pendidikan dan kariernya di bawah dia. Ya, kembali lagi seperti alasan yang seakan Rana ungkapkan: tak ada rumah-tangga yang lebih indah, selain memilih pemimpin rumah-tangga yang baik dan bertanggung-jawab. Jadi sekalipun pendidikan suami lebih rendah, bukan lantas dia bodoh. Seperti yang sahabat Rana katakan, “Suamiku nggak pake sarjana-sarjanaan, tapi dia pintar dan bertanggung-jawab”. Karier dan penghasilan suami yang lebih rendah juga tak perlu menjadi bumerang dalam rumah-tangga, seperti yang Rana katakan, “Untuk masalah rejeki, Insya Allah tak masalah. Kan aku juga akan terus mengajar.” Ya, bila saling mencintai, saling tolong menolonglah…
Seperti yang masyarakat juga sering katakan, “Gimana mau dapet jodoh, kalau nggak ada usahanya!” Begini juga kira-kira yang Ibu Zahrana katakan, “Coba kamu minta tolong sama Kiai. Siapa tau beliau punya santri yang cocok.” Demi membahagiakan hati Bapak dan Ibu, Rana pun datang bersama sahabat menemui ‘Nyai’ yang merupakan istri Pak Kiai. Setelah berembuk dengan Pak Kiai, Nyai pun mengusulkan agar Rana mengenal Rahmad, ‘hanya’ seorang tukang kerupuk. Awalnya Rana kecewa (lagi-lagi ekspresi Meyda di scene ini begitu natural) namun sekali lagi, demi cepat menikah, Rana pun menyetujui saran Nyai. Penonton jadi tertawa ketika tukang kerupuk yang pertama merupakan orang yang salah, maaf kalau saya bilang ‘jelek’. Dan kami begitu terpukau ketika melihat tukang kerupuk kedua, yaitu Azzam.
Melihat tukang kerupuk yang ganteng, Rana mendadak jatuh cinta. Ditambah lagi dengan feeling Ibu yang menganggap kalau Rahmad merupakan lelaki baik-baik, apalagi kandidat yang diusulkan Pak Kiai dan Nyai. Bapak dan Ibu segera ‘melamar’ Rahmad melalui Pak Kiai dan Nyai, sebagai wali Rahmad di pesantren.
Ya, seperti sebagian lelaki pada umumnya. Rahmad awalnya juga nggak yakin, “Apa Bapak dan Ibu sungguh-sungguh? Mengingat saya dan anak Bapak ‘berbeda jauh’? Bapak begitu mantap mengatakan, “Bagi kami yang penting anak kami menikah dengan lelaki sholeh.” Pernikahan pun segera digelar.
Ketika Calon Jodoh Sudah Ada di Depan Mata
Sebelum pertemuannya dengan Rahmad, Rana juga sempat dilamar oleh Rektor di kampusnya. Predikat Pak (aduh saya lupa namanya) sebagai lelaki kaya, punya lima pom bensin, pemegang saham kampus juga, tapi hobinya tukang kawin, membuat Rana enggan menerima pinangan tersebut. Walau Bapak dan Ibu begitu kecewa dengan keputusan Rana yang menolak atasannya, namun Rana sudah berprinsip, “Calon suamiku harus lelaki baik-baik.” Demikian juga saran dari sahabat Rana. Dia berusaha tegar ketika Bapak dan Ibu mengatakan, “Lelaki seperti apa lagi yang kamu inginkan?”
Penonton kembali tertawa ketika calon kedua datang, yaitu seorang satpam, kandidat dari tatangganya. Si satpam jaim tidak lolos seleksi oleh Rana dan juga Bapak, mengingat lelaki itu tak bisa membaca Al-Qur’an. Scene ini benar-benar lucu dan sangat mengibur.
Lalu ada lagi lelaki kaya yang ingin memberikan mobil pada Rana. Namun karena gaya bicaranya yang membuat Bapak muak, lelaki itu akhirnya ‘disuruh pulang’. Adegan ini juga mampu membuat penonton tertawa.
Hingga pada akhirnya Rana bertemu Rahmad. Sayang, ketika besok pagi akan menikah, malam sebelumnya Rana mendapat kabar bahwa Rahmad kecelakaan dan meninggal. Rana begitu terguncang dan pingsan. Bapak jantungnya jadi kumat, dilarikan ke rumah sakit, dan meninggal. Di malam yang sama, Rana kehilangan dua orang yang dia cintai.
Karena jiwanya begitu terguncang, Rana pun dirawat ke rumah sakit, berkenalan dengan psikiater yang ternyata Ibu dari Hasan (Miller) yang dulunya merupakan mahasiswa Rana. Kedekatan Rana-Hasan-dan Ibu Hasan, membuat Hasan jadi mantap melamar Rana, melalui Ibunya. Mungkin ada yang menganggap, ‘Ah nggak macho, kok bukan Hasan sendiri yang melamar?’ Ya, kalau yang mengerti etika Islam, pasti nggak akan bilang seperti ini.
Awalnya Rana sempat nggak yakin, mengingat Hasan merupakan ‘berondong’ atau usianya lebih muda dari Rana. Dan lagi mengingat Ibu Hasan telah mengenal Rana, “Apa mungkin Ibu mau menerima saya sebagai menantu?” Kemantapan hati Ibu Hasan membuat Rana akhirnya berucap, “Aku terima dengan syarat… Aku ingin menikah ba’da Isya.” (Hal yang sama ketika Azzam dan Anna menikah, mendadak dan pada saat ba’da Isya).
Habis sudah penantian Rana akan sebuah jodoh. Ketika dirinya ikhlas untuk menikah dengan lelaki manapaun (asalkan sholeh) termasuk ketika dirinya ikhlas menjadi calon istri penjual kerupuk, malah membuat Rana mendapat jodoh yang sangat ideal: (lebih) muda, pintar, mapan, dan pastinya agama baik. Saya sempat terkecoh ketika Hasan yang begitu dekat dengan seorang gadis, yang ternyata gadis itu merupakan adik bungsu ayahnya, “Harusnya aku manggil dia ‘Bibi’, namun karena aku lebih tua, jadi dia panggil aku ‘Mas’”.
Film ini sangat baik untuk ditonton semua kalangan, kecuali kalau ada yang menganggap bahwa tak ada satupun film Indonesia yang bagus. Bagi para perempuan, jangan pernah takut untuk sekolah setinggi mungkin, berkarier, dan berkarya. Jangan pernah hiraukan ungkapan bahwa tidak ada lelaki yang jatuh cinta dengan perempuan cerdas. Biarkan saja jika ada sebagian lelaki yang seleranya adalah perempuan bodoh. Toh saya yakin ada banyak lelaki yang lebih memilih perempuan cerdas dan baik, mengingat nantinya mereka akan menitipkan anak-anak mereka pada kita, menitipkan penghasilannya pada kita untuk kebutuhan rumah-tangga, untuk menjadi sahabat dan penasehat mereka, untuk membantu mereka mencari nafkah juga. Ya, perempuan cerdas memang banyak gunanya.
Menjadi perempuan cerdas juga membuat perempuan hati-hati memilih pasangan. Hati-hati memilih bukan lantas ‘banyak tingkah’. Adanya istilah ‘perawan tua’ sepertinya yang diungkapkan bos Rana karena Rana menolak pinangannya, membuat banyak perempuan lebih memilih lelaki ‘asal tangkap’, daripada banyak mikir malah nantinya jadi perawan tua. Jadilah seperti Rana, tidak banyak kriteria, namun lelaki tersebut harus dekat dengan agama, malah membuat dirinya mendapat jodoh lebih dari yang dia minta. Ya, mari kita bijak memilih lelaki. Pernikahan bukanlah adu balap gelar dan penghasilan. Tak perlu memilih lelaki yang sekolah dan karier serta penghasilan lebih tinggi. Yang penting baik, tanggung-jawab, dan pastinya: bukan pengangguran.
Sedangkan untuk para orang-tua, jangan pernah menghakimi anak gadis yang belum menikah. Mendoakan jauh lebih baik daripada terus menyalahkan. “Aku ikhlas berkorban demi Bapak!” “Tapi kamu ndak perlu mengorbankan hatimu!” Dialog yang cukup membuat nyesss. Ya, jangan sampai pernikahan didasari karena paksaan dari orang-lain. Menikahnya karena kita telah memiliki calon suami yang baik, dan kita pun sama-sama siap berumah-tangga.
Nikah sama berondong, inilah ending dari film ini. Ya, bagi sebagian orang memang agak aneh jika ada perempuan yang suaminya lebih muda. Padahal, banyak juga perempuan yang langgeng dengan suami lebih muda namun dewasa. So, lelaki lebih tua, seumuran, atau lebih muda, yang penting agamanya bagus…

anda bisa mendowload nya disini...
Klik DISINI Yaaaaaa..............

1 komentar:

  1. bagus sekali artikel nya....sukses bwt anda


    Hamam Nasirudin
    http://www.formulabisnis.com/?id=obier
    informasi formula bisnis seputar bisnis online,usaha online,bisnis praktis,usaha rumahan,mesin uang untuk anda.silakan klik disini dan anda akan tau semuannya.

    BalasHapus